Sejarah GKI Sumut Medan

GKI SU Medan

GKI Sumut Medan Zaman Dulu

Gereja Kristen Indonesia ( GKI ) Sumut  Medan di Jalan K.H.Zainul Arifin No.124 – 126 awalnya tumbuh dari kelompok yang terdiri dari beberapa orang anggota gereja yang disebut dengan Gereformeerd Kwitang Jakarta.

Pada mulanya gereja ini bernama Gereformeerd Sumut. Dengan memulai kelompok pelayanan sejak 1 Januari 1904 dan terus berkembang hingga tahun 1913 dengan perluasan pelayanan. ” Anggota jemaat di Medan awalnya hanya ada 9 keluarga, di Tapanuli 3 keluarga, Sumatera Timur ada 14 keluarga dan di Sumatera Barat ada 7 keluarga”.

Pelayanan semakin berkembang, tanggal 16 Agustus 1915 dilembagakan tersendiri menjadi perkumpulan Gereformeerd ( Gereformeerd Vereniging ) dengan jumlah sudah mencapai 60 orang. Pada rapat jemaat pertama dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober 1915 ditegaskan bahwa pendeta dan pembinaan jemaat dilaksanakan oleh Ds WS de Haas sebagai pendeta utusan.

Perkembangan gereja terus berkembang, sehingga Gereformeerd aras persetujuan Gereja Gereformeerd Kwitang Jakarta, tanggal 12 Mei 1917 di dewasakan dengan anggota berjumlah 130 orang dan 80 orang diantaranya anggota Sidi. Segera setelah gereja ini didewasakan, tanggal 15 Mei 1917, majelis mengadakan rapat bersama untuk pemanggilan calon pendeta, yaitu Dr Harrensteins dari Belanda.

Karena kesulitan transportasi dan peperangan dari Eropaj, beliau baru tiba di Jakarta tanggal 29 September 1918. Kemudian sampai di Medan tanggal 10 Oktober 1918. Penahbisan dalam jabatan Dr Harrensteins dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 1918 yang dilayani Dr AAL Rutgers. Pelayanan Dr Harrensteins sebagai pendeta Gereja Gereformeerd meliputi wilayah Medan, Aceh, Tapanuli, Simalungun, Kisaran/Asahan, Sumatera Barat bahkan sampai Semenanjung Malaya. Mengingat pelayanan Ds Dr Harrensteins sangat luas dan berat, maka pada tahun 1919 Majelis Gereja memanggil Bapak Dr JH Bawink menjadi tenaga pembantu pendeta. Ds JH Bawink hanya bertugas sementara karena dipanggil untuk melayani jemaat di Bandung.

Ds Dr Harrensteins kembali melayani sendiri hingga 1923 dan kembali ke Belanda mengingat kesehatan ibu Harrensteins tidak memungkinkan tinggal lama di Indonesia. Kemudian dirinya digantikan oleh Ds WS Wiersinga yang diteguhkan tanggal 1 Juli 1923 dan dia melayani hingga 1928. Karena dia pindah, dirinya digantikan dengan Ds C Mak yang melayani sejak 1928 hinggal 1946. Namun pada tahun 1942-1945, beliau masuk Camp Intenir.

Di tahun 1930 Gereja Gereformeerd Medan ini mengadakan pelayanan berbahasa Indonesia / Jawa berkat kerjasama dengan kristen jawa Jakarta yang mengatas namakan Gereja Kristen Jawa Tengah. Untuk pelayanan tahun 1932 dibangun rumah ibadah yang terletak di Jalan HOS Cokrominoto Medan, dulunya disebut Jalan Percut.

Dengan demikian Gereja Gereformeerd Medan melaksanakan pelayanan dengan bahasa Belanda dan bahasa Indonesia / Jawa. Tahun 1935, pelayanan meluas hingga ke Pematang Siantar. Tanggal 25 Desember 1938, diteguhkan 2 orang pendeta Indonesia, yakni Ds RS Cokro Susilo dan Ds Dhanu Pronoto di Medan. Perkembangan jemaat pada waktu itu di Pematang Siantar 81 orang dewasa, 51 orang anak-anak dan di Medan 91 orang dewasa dan 40 orang anak-anak.

Pada masa tahun 1957, Gereja Gereformeerd Medan berbahasa Belanda ditutup dan pengelolaan diteruskan sepenuhnya oleh Gereja Gereformeerd Medan berbahasa Indonesia / Jawa. Pelayanan dengan menjalin kerjasama dengan Ds KLF Le Grand yang diutus ke Medan tahun 1962 sebagai tenaga pengkaderan. Sejak tahun 1962 pelayanan kebaktian dilaksanakan di Jalan K.H.Zainul Arifin, dulunya disebut Jalan Palang Merah.

Sejumlah gereja yang telah didewasakan adalah Jalan Gn. Simanuk-Manuk Pematang Siantar, Jalan Sinabung Pematang Siantar, Kwala Bingai, Stabat, Langkat, Nagarejo, Kecamatan Galang Deli Serdang, Tanjung Rejo Medan, Medan Timur dan Kotarih Deli Serdang.

Gereja GKI Sumut Medan merupakan salah satu gereja tertua di Medan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda di Indonesia.

%d bloggers like this: